Corsair luncurkan keyboard hingga mouse gaming terbaru

Jakarta (ANTARA) – Produsen komponen dan perangkat gim asal Amerika Serikat Corsair meluncurkan sejumlah produk terbaru mereka di Indonesia, mulai dari tetikus (mouse), penutup CPU, hingga papan ketik (keyboard) nirkabel di Jakarta, Jumat.

Corsair meluncurkan tetikus nirkabel Harpoon RGB Wireless yang memakai teknologi bernama slipstream Corsair wireless technology untuk memberikan performa setara kabel.

Slipstream wireless memberikan kecepatan yang diperlukan sebagai perangkat gim sebesar 2,4GHz. Kecepatan itu mampu menghantarkan paket data dua kali lebih banyak dari generasi sebelumnya.

Mouse Corsair Harpoon RGB Wireless dipasarkan mulai harga Rp750.000. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

Kemudian, papan ketik nirkabel K83 Wireless terbuat dari rangka aluminium dan diklaim punya tata letak tombol yang mudah digunakan. Papan ketik itu juga memiliki fitur kendali gim (joystick) dan dilengkapi dengan lampu LED berwarna putih.

Keyboard itu ditawarkan mulai Rp1,599 juta.
  Keyboard Corsair K83 Wireless. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

Sementara, penutup CPU transparan Corsair Crystal Series 680X RGB terbuat dari bahan ATX tempered glass dengan konsep dual-chamber. Casing itu membuat aliran udara masuk ke komponen-komponen terpanas seperti CPU dan VGA.

Produk yang dijual seharga Rp3,950 juta itu memiliki pencahayaan RGB dari tiga buah kipas LL120 RGB yang dikontrol melalui teknologi Lighting Node Pro melalui perangkat lunak iCUE.

Produk serupa yaitu Carbide Series 678C memiliki peredam suara di samping dan atas bodi agar komputer terasa hening. Ruangan yang lapang di Carbide Series 678C dapat menampung radiator pendingin hingga ukuran 360 milimeter.

Penutup CPU dengan banderol Rp2,799 juta itu menawarkan enam buah tempat harddisk modular yang dapat dipindah ke delapan posisi.

Corsair juga meluncurkan pendingin likuid Hydro Series H100! Platinum SE dengan radiator 240 milimeter dan didukung perangkat lunak iCUE untuk mengontrol performa dan pencahayaan RGB.  Corsair Hydro Series H100! Platinum SE dijual sekitar Rp2,350 juta.
 

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sempat down, layanan Google mulai pulih

Jakarta (ANTARA) – Layanan Google sempat mengalami gangguan untuk Gmail, Drive, Hangouts dan Google Maps.

Keluhan gangguan layanan Google ini tidak hanya tidak hanya terjadi di Indonesia, namun, juga beberapa negara lainnya seperti Australia, Amerika Serikat serta sejumlah negara di Asia maupun Eropa, seperti diberitakan laman The Guardian, Rabu.

Pantauan Antara, saat ini layanan Gmail, Drive maupun Maps dapat digunakan seperti biasa.

Sebelumnya, pengguna Gmail mengeluhkan mereka tidak bisa mengirim surat meski pun sudah tersambung ke internet. Pengguna juga tidak bisa mengunggah berkas ke Google Drive.

Pengguna Google Maps mengaku tidak bisa menggunakan Street View karena hanya menampilkan layar hitam kosong.

Google dalam laman resmi, beberapa jam setelah mendapatkan laporan gangguan, menyatakan mereka segera menginvestigasi masalah untuk layanan Gmail.

Mereka menyatakan saat ini masalah sudah diatasi, namun, tidak menjelaskan sumber kerusakan yang menyebabkan gangguan layanan beberapa jam sebelumnya.

“Keandalan sistem menjadi prioritas utama di Google, kami terus melakukan perbaikan agar sistem kami menjadi lebih baik,” kata Google.

Baca juga: Alasan keamanan, Google ingatkan pengguna segera perbarui Chrome

Baca juga: Google Indonesia jadikan pemilih muda lebih “kepo” pemilu

Baca juga: Google, JD, dan Tencent suntik dana untuk GoJek

Penerjemah: Natisha Andarningtyas
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Olga Ladyzhenskaya Google Doodle hari ini, siapa dia?

Jakarta (ANTARA) – Google Doodle hari ini memperingati kelahiran seorang ahli matematika Olga Ladyzhenskaya dengan memajang tampilan kartun bernuansa kuning lengkap dengan rumus-rumus matematika.

Ladyzhenskaya lahir di Kologriv Soviet Russia pada 7 Maret 1922. Dia menghadapi tantangan pribadi maupun politik sepanjang karirnya, di mana dia telah menghasilkan lebih dari 250 karya tulis.

Dilansir Independent, berikut empat hal yang perlu diketahui tentang ilmuwan tersebut.

1. Hubungan keluarga membuatnya kesulitan menuntut ilmu

Ayah Ladyzhenskaya, Aleksandr Ivanovich Ladyzhenskii, disebut berperan dalam memulai ketertarikan putrinya terhadap matematika sejak dini. Aleksandr dipercaya tewas pada Oktober 1937, saat putrinya masih berusia 15 tahun, di ruang siksaan Soviet setelah ditangkap oleh otoritas Stalin, berdasarkan arsip sejarah matematika di University of St Andrews, Skotlandia.

Meski Ladyzhenskaya lulus dari sekolah menengah dengan nilai memuaskan, dia kesulitan masuk ke Leningrad State University karena ayahnya dianggap sebagai “musuh negara”.

Dia akhirnya mengajar di sekolah menengah dan panti asuhan sebelum masuk Moscow State University pada 1943 dan kemudian mendapatkan gelar doktor dari Leningrad State University.

2. Menghadapi gangguan politik dan sosial pada masanya

Sepanjang hidupnya, Ladyzhenskaya harus bekerja di tengah politik untuk melakukan penelitiannya.

Saat menyelesaikan tesisnya pada 1951, karya itu tidak dapat diterbitkan hingga 1953, setelah kematian Joseph Stalin.

Ketika pemerintahan Komunis berakhir pada 1989, Ladyzhenskaya, bersama dengan ahli matematika Rusia lainnya memiliki lebih banyak kebebasan untuk bepergian.

Sebelum itu terjadi, Ladyzhenskaya tidak dapat bepergian ke luar Eropa Timur, dan hanya pernah menghadiri Kongres Internasional Matematikawan di Edinburgh.

Dia tidak menghadiri acara itu lagi sampai tahun 1988.

Hidup di bawah rezim Soviet juga berarti Ladyzhenskaya tidak dapat bertemu ilmuwan terkemuka lainnya selama bertahun-tahun, karena mereka tidak diizinkan untuk mengunjungi perhimpunan.

3. Penelitiannya masih bermanfaat hingga sekarang

Ladyzhenskaya membuat kontribusi penting untuk dinamika fluida. Penelitiannya bermanfaat untuk oseanografi, ilmu kardiovaskular, aerodinamika, dan ramalan cuaca.

4. Dianggap pemberontak

Meski hidup di bawah rezim represif, Ladyzhenskaya tidak takut mengungkapkan pendapatnya tentang masalah sosial, yang sering kali membahayakan keselamatan pribadinya, berdasarkan data Universitas St Andrews.

Sebagai pecinta seni, ia terlibat dalam kancah intelektual St Petersburg dan berteman dengan penulis Aleksandr Solzhenitsyn, seorang kritikus blak-blakan dari Uni Soviet.

Ladyzhenskaya juga berteman dengan penyair Anna Akhmatova, yang karyanya mengecam rezim Stalin.

Baca juga: Selamat Hari Anak Nasional di Google Doodle

Baca juga: Alicia Keys bacakan puisi Maya Angelou di Google Doodle

Baca juga: Google Indonesia jadikan pemilih muda lebih “kepo” pemilu

Baca juga: Google investasi 13 miliar dolar di pusat data AS

Penerjemah:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kominfo siapkan 20 ribu digital talent

ANTARA-Kementerian Komunikasi dan Informatika membuka pelatihan digital talent untuk kaum milenial di Indonesia. Tahun ini, Kominfo menyiapkan 25 ribu kursi pelatihan  di 20 provinsi, dengan target 20 ribu kelulusan, untuk menyiapkan 9 juta digital talent pada 2030.